Jumat, 20 Juni 2008

Serumpun Bunga di Tepi Jurang

Rumah Amelia terletak di tepi jalan yang sepi. Tempat itu berada di luar kota dan berbukit-bukit. Halaman rumah itu sangat asri. Pohon bunga aneka warna tumbuh di sana. Amelia yang menanamnya. Ia seorang pecinta keindahan alam. Hobinya menanam bunga.

Pada suatu hari lelah belajar, Amelia berdiri di depan jendela. Matanya menatap gunung yang hijau kebiruan warnanya. "Ah, indahnya. Alangkah senangnya apabila aku bisa sampai di gunung itu, tanpa harus mendakinya," katanya lirih. "Kalau kau ingin terbang ke sana, ikutlah aku," terdengar suara lembut. Amelia terkejut. Ia menoleh dan bertanya. "Hai siapakah engkau. Mengapa kau masuk ke rumah tanpa permisi?" tanya Amelia. "Namaku Yuli. Rumahku agak jauh dari sini. Aku ingin berteman denganmu, Amelia," jawab anak itu. "Dari mana kau tahu namaku?" tanya Amelia. "Aku sering mendengar namamu dipanggil ibumu," jawab Yuli sambil mengulurkan tangannya tanda persahabatan. "Lo, tanganmu mengapa dingin sekali, Yuli? Barangkali engkau sakit?" tanya Amelia cemas. "Sudah beberapa hari aku sakit. Jadi aku tak bisa sekolah," kata Yuli. "Kalau sakit, mengapa tidak tidur saja di rumah?" tanya Amelia. "Udara di luar justru membuatku sembuh, Amelia," jawab Yuli sambil menarik tangan Amelia diajaknya pergi. "Oh, tidak, aku tak mau pergi sekarang. PR-ku masih harus kuselesaikan," jawab Amelia. "Kalau begitu besok pagi saja ya Amelia," kata Yuli. "Besok pagi kau boleh datang ke sini. Ibu membuat kue yang enak untukku. Kau harus mencicipinya, Yuli," jawab Amelia. "Terima kasih, Amelia. Engkau sangat baik padaku," jawab Yuli sambil melambaikan tangannya. Amelia pun membalasnya.

"Kau bicara dengan siapa Amelia?" kata ibunya dengan cemas. "Amelia tidak berkhayal, Bu. Yuli memang sahabat baruku. Rumahnya agak jauh dari sini, Bu. Tapi besok pagi ia mau datang lagi. Amelia sudah berjanji akan memberinya kue buatan Ibu," kata Amelia. Ibu Amelia menggelengkan kepala. "Anakku ini agak aneh," gumamnya.

Esok harinya, matahari memancarkan sinarnya yang lembut. Waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Amelia memandang keluar lewat jendela. Yuli sudah ada di balik pintu pagar. "Hai, engkau telah datang Yuli. Dan wajahmu nampak sedih. Mengapa?" tanya Amelia. Yuli diam saja. Bahkan di matanya mulai mengembang air. Kemudian menitik pelan-pelan. "Engkau menangis?" tanya Amelia. Yuli menganggukkan kepala. kemudian ia berkata,"Amelia aku perlu kau temani pergi ke suatu tempat. sebentar saja, tolonglah Amelia. Ikutlah denganku ke tempat di mana aku akan menunjukkan sesuatu padamu. Seseuatu yang indah, sekaligus menyedihkan," kata Yuli. Amelia kasihan kepada sahabat barunya itu. Ia pun mengangguk pada Yuli, tanda mau mengantarnya. "Kalau begitu, peganglah tanganku," kata Yuli.

Tak berapa lama berjalan mereka sudah tiba di suatu tempat. "Nah, lihat Amelia. Itu bunga-bunga yang begitu indah. Aku ingin memetik bunga-bunga itu," kata Yuli sambil menunjuk serumpun bunga di tepi jurang. memang sangat indah warna bunga-bunga itu. tetapi letaknya meragukan hati Amelia. "Jangan, Yuli, jangan kau pergi ke sana, sangat berbahaya!" teriak Amelia, melarang Yuli yang sudah berjalan menuju tepian jurang. Yuli terus berusaha mencapai bunga itu. Tiba-tiba pijakan kaki Yuli lepas, dan tanpa ampun, Yuli terhempas, jatuh ke jurang. Jeritan Yuli menggema di sana.

Tangis Amelia pecah, ia memanggil-manggil Yuli yang sudah terbaring di dasar jurang. Seorang laki-laki tua sedang menyabit rumput mendengar tangis Amelia. Ia menghampirinya dan bertanya. tetapi Amelia hanya bisa menunjuk ke jurang di bawah sana. Laki-laki itu segera menuruni jurang dengan sangat hati-hati. Ia melihat Yuli terbaring di sana. "Ya, Tuhan, anak ini hilang satu minggu yang lalu. Orang tuanya sudah bingung mencarinya," gumamnya. Amelia merasa terpukul sekali hatinya.

Laki-laki itu mengantarkan Amelia ke rumahnya. Kemudian ia memberi tahu orang tua Yuli, bahwa Yuli telah meninggal karena jatuh ke dalam jurang. Ayah Amelia teringat sesuatu. Ia mengambil sehelai koran dari bawah meja. Ayah pernah membaca berita tentang anak kecil yang hilang bernama Yuli. Ternyata, Yuli telah meninggalkan rumahnya satu minggu yang lalu untuk memetik bunga. Nasibnya jatuh ke dalam jurang, tanpa diketahui orang. Oleh karena itu, lewat Amelia, Yuli minta tolong agar mayatnya ditemukan orang. "Jadi, yang datang padaku adalah jiwa Yuli, ya Ayah?" tanya Amelia. "Pantas, tangannya terasa begitu dingin. Tapi aku tak perlu takut. Aku akan selalu mendoakan dia," katanya lirih.

Pada suatu pagi, Amelia membuka jendela kamarnya. Ia mendengar ada yang mengetuk. Tak seorang pun ada di luar jendela. Tapi di bingkai jendela tergeletak seikat bunga berwarna merah muda. Bunga-bunga itu masih segar dan basah oleh embun. Amelia ingat. Bunga itulah yang sangat disukai Yuli. "Tuhan, semoga Yuli bahagia di sisiMu, Amin," ucap Amelia lirih. Tak terasa, air matanya pun jatuh menitik.